Selasa, 16 Desember 2014

KOTA TANGERANG DPRD Panggil Pengelola Bandara

DPRD Kota Tangerang segera memanggil PT Angkasa Pura (AP-2), selaku pengelola Bandara Soekarno Hatta (BSH) terkait dengan padamnya listrik dan pendingin udara (AC) di Terminal 2-F kedatangan internasional bandara itu.

“Meskipun BSH adalah wilayah otoritas, kami punya wewenang untuk memanggil pengelola bandara itu mengingat keberadaan mereka terletak di Kota Tangerang,“ kata Wakil Ketua DPRD Kota Tangerang Hapipi, kemarin.

Menurut Hapipi, pengelola bandara juga membayar pajakpajak mereka ke Pemda Kota Tangerang. Karena itu, lanjut nya, jika pelayanan bandara kelas 1 di Indonesia tersebut buruk, citra Kota Tangerang juga akan tercoreng.

“Saya berterima kasih atas kontrol yang diberikan kawankawan media. Namun, untuk menindaklanjuti hal tersebut, persoalan ini akan saya bahas terlebih dahulu di Komisi 1 agar PT AP-2 segera dipanggil untuk menjelaskan kenapa kasus seperti itu selalu berulang,“ kata Hapipi yang juga dari Fraksi Golkar.

Kepala Kantor Cabang PT AP-2 Bram Baroto Tjiptadi ketika dimintai konfirmasi masalah tersebut sulit dihubungi.Bahkan dikirim SMS pun tidak menjawab. “Bapak rapat di Jakarta. Apa bisa saya bantu,“ kata Manager Humas dan Protokoler Kantor Cabang PT AP-2, Yudis Tiawan.

Lebih jauh Yudis Tiawan mengatakan, apabila DPRD Kota Tangerang akan memanggil pihaknya atas padamnya listrik dan AC di Terminal 2-F itu adalah hak mereka.Dan, pihaknya pun siap untuk menjelaskan peristiwa tersebut.

Seperti diketahui, Rabu (3/12) hingga Minggu (7/12), panel listrik di Terminal 2-F terbakar sehingga mengganggu jaringan listrik dan AC di terminal itu. (SM/J-1) Media Indonesia, 09/12/2014, halaman 8

Minggu, 14 Desember 2014

TANGERANG Angkasa Pura II Diharapkan Berikan Kompensasi

PADAMNYA listrik di Bandara Soekarno-Hatta (BSH) yang mengakibatkan tidak berfungsinya alat pendingin (AC), tidak beroperasinya tenant kedai makanan, dan gangguan terminal kedatangan internasional di Terminal 2-F merupakan bukti masih buruknya pelayanan di bandara kelas 1 itu.

“Kejadian seperti ini kerap terjadi di BSH. Ini bukti dari buruknya pelayanan di bandara kelas 1 di Indonesia itu,” tegas Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLkI) Tulus Abadi, kemarin.

Seharusnya, jelas Tulus, BSH mengontrol secara periodik sehingga peristiwa tersebut tidak berulang-ulang terjadi. Kejadian itu jelas merugikan para tenant dan pengguna jasa penerbangan di sana.

Karena itu, lanjut dia, PT Angkasa Pura (AP II) selaku pengelola BSH harus memberikan kompensasi kepada para tenant dan pengguna jasa penerbangan, misalnya dengan menghapuskan airport tax. Jika PT AP II tidak memberikan kompensansi, para tenant ataupun pengguna jasa penerbangan bisa menuntut.

Terkait dengan hal itu, Manajer Humas dan Protokoler Kantor Cabang PT AP II BSH Yudis Tiawan menegaskan tidak akan memberikan kompensasi. Padamnya listrik dan tidak berfungsinya AC di Terminal 2-F BSH ialah kerusakan di luar dugaan.

Seperti diketahui, Rabu (3/12) dini hari, panel listrik di Terminal 2-F terbakar. Perbaikannya memakan waktu lima hari. Listrik berfungsi lagi pada Minggu (7/12) dini hari. (SM/T-3) Media Indonesia, 08/12/2014, halaman 8

Selasa, 09 Desember 2014

Situ Kayu Antap pun Hilang

PENGURUKAN situ di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) bukan hanya terjadi pada Situ Ciledug yang berada di Kecamatan Pamulang. Situ Kayu Antap di Kecamatan Ciputat Timur, bahkan hilang karena tergerus pembangunan.

Tembok setinggi 3 meter kini terlihat mengelilingi situ dan menutup akses menuju lokasi itu. Pemandangan mengejutkan terlihat saat melongok ke dalam, karena lokasi yang sebelumnya berfungsi sebagai area resapan air itu sudah tertimbun tanah.

Di atas tanah urukan yang ditumbuhi rumput liar itu, berdiri tiga rumah setengah jadi yang masih berstruktur bata merah. Aktivitas pembangunan di area Situ Kayu Antap yang sudah berlangsung lama juga diakui warga sekitar.

“(Lahan) itu dahulunya situ. Tapi sekarang udah habis ketutup tanah. Infor masinya mau dijadikan perumahan, tapi mandek sampai sekarang,“ terang Yahya, Ketua RT 08/02, Kampung Setu, Ciputat Timur, Senin (1/12).

Yahya juga mengatakan, pembangunan permukiman di Situ Kayu Antap yang diuruk dimulai tujuh tahun silam. Sekitar 1,2 hektare lokasi resapan air itu kini sudah tertutup tanah. “Saya tidak tahu (permukiman) ini punya pengembang dari mana. Mungkin belum juga selesai dibangun karena jadi sengketa.“

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Tangsel Retno Prawati mengatakan kasus pengurukan Situ Kayu Antap sekarang masih diproses di pengadilan. Situ tersebut merupakan aset Pemerintah Provinsi Banten dan hak pengelolaannya ada di tangan pemerintah pusat. “Pengembang perumahan (yang menguruk situ) memiliki sertifikat kepemilikan lahan dari BPN (Badan Pertanahan Nasional). Saya belum tahu lagi sudah sejauh mana proses persidangannya (di pengadilan),“ jelas Retno.

Untuk mencegah semakin parahnya perusakan situ yang ada di Kota Tangsel, Retno mengaku sudah bekerja sama dengan Dirjen Sumber Daya Air pada Kementerian Pekerjaan Umum guna membagi tugas dalam penanganan situ. “Antara pemerintah daerah dan pusat memang mesti berbagi tugas dalam pengawasan dan penanganan situ. Karena pemerintah daerah yang lebih mengetahui kondisi situ di wilayah masingmasing. Sementara itu, kewenangannya ada di pemerintah pusat,“ ujarnya.

Sekretaris DBMSDA Kota Tangsel Judianto menambahkan pengurukan Situ Kayu Antap terjadi bersamaan dengan lahirnya Kota Tangsel sekitar empat tahun lalu. (DA/J-3) Media Indonesia, 04/12/2014, halaman 9

Pemkot Tangsel tidak Punya Kewenangan

KONDISI sejumlah situ di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) memprihatinkan, karena tidak terurus. Pemerintah kota setempat beralasan buruknya pengelolaan situ di wilayah hasil pemekaran dari Kabupaten Tangerang itu terganjal kewenangan di pemerintah pusat dan provinsi.

Di Tangsel tercatat ada sembilan situ, yakni Situ Gintung, Legoso, Rompong, Bungur, dan Situ Kayu Antap di Kecamatan Ciputat Timur. Lalu, Situ Ciledug dan Sasak Tinggi di Kecamatan Pamulang, Situ Parigi di Pondok Aren, serta Situ Rawa Kutuk di Serpong.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Tangsel Rahmat Salam mengatakan, dari sembilan situ, delapan di antaranya yang tidak terurus. “Selain Situ Gintung, yang lainnya (keberadaannya) terancam. Misalnya, debit airnya semakin berkurang, situ semakin dangkal, dan dipenuhi tumpukan sampah,“ katanya, Senin (1/12).

Ia menyebutkan, kewenangan dan tanggung jawab pengelolaan seluruh situ di Kota Tangsel berada di tangan pemerintah pusat serta Pemerintah Provinsi Banten. Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel sebatas menjaga, namun tidak memiliki otoritas penuh untuk mengurusnya.“Tugas pemerintah pusat dan provinsi mengurus situ-situ di Kota Tangsel. Tapi, belum ada upaya melakukan pengawasan secara ketat,“ imbuhnya.

Jika situ-situ itu tidak diurus, ujarnya, bukan hanya kondisi situ menjadi rusak.Aksi penyerobotan untuk dialihfungsikan menjadi permukiman dan bangunan komersial lainnya oleh pihak tertentu.Seperti yang telah terjadi pada beberapa situ. “(Penyerobotan) Sudah terjadi pada Situ Kayu Antap di Ciputat Timur. Lahan (urugan) di sana sudah menjadi kawasan perumahan,“ jelasnya.

Sementara itu, Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diany mengungkapkan, di wilayahnya ada 13 situ. Namun, dalam Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) yang tercantum hanya sembilan situ. Untuk perawatan seluruh situ, Pemkot Tangsel telah membuat draf nota kesepahaman dengan Kementerian Pekerjaan Umum agar pemkot diberi kewenangan memperbaiki situ. “Jika draf MoU (nota kesepahaman) telah disepakati, Pemkot Tangsel dapat melakukan perbaikan situ,“ ujarnya.

Di tengah keterbatasan kewenangan menangani situ selama ini, lanjut Airin, perawatan beberapa situ dibantu oleh warga setempat. (DA/J-3) Media Indonesia, 04/12/2014, halaman 9

Minggu, 23 November 2014

KOTA TANGERANG Bea dan Cukai Sita Sabu Rp18,1 Miliar

SEBANYAK enam WNA dan satu WNI ditangkap petugas Bea dan Cukai, karena berusaha menyelundupkan narkotika melalui Bandara Soekarno-Hatta. Total barang bukti yang disita petugas ialah 13,4 kg sabu senilai Rp18,1 miliar.

“Dalam kurun waktu 10 hari ini, kami telah menggagalkan tujuh kasus penyelundupan narkotika,“ kata Kepala Kantor Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta Tangerang Okto Irianto, kemarin.

Upaya penyelundupan itu di lakukan PV, WN Vietnam yang merupakan penumpang pesawat Air Asia (AK 386) rute Ho Chi Minh City-Shenzen-Kuala Lumpur-Jakarta pada 20 Oktober 2014. Ia membawa 2,5 kg sabu. Petugas juga menangkap PT, WN Vietnam yang kedapatan membawa sabu seberat 2,6 kg.

“Setelah menangkap kedua orang itu, pada Senin 27 Oktober 2014, kami kembali menangkap WL, 38, WN Hong Kong di Termianl 2D, karena membawa 2 gram hashish atau ekstrak mariyuana.

“Selanjutnya, kata dia, pada 29 Oktober 2014, di Terminal 2D kedatangan Bandara SoekarnoHatta, petugas menangkap KM, 27, WN Iran, karena membawa sabu 1,6 kg. Lalu pada 1 November, petugas menangkap dua WN Taiwan, LC, 40, dan XW, 21, yang membawa 2,1 dan 2,2 kg sabu cair yang disembunyikan di dalam guci arak.

Selain itu, petugas menangkap YW, 20, WNI yang membawa sabu seberat 2,2 kg pada Minggu (2/11) di Terminal 3 kedatangan Bandara Soekarno-Hatta. “Kasus ini kami limpahkan ke Bareskrim Polri uintuk ditindaklanjuti,“ kata Okto. (SM/J-1) Media Indonesia, 19/11/2014, halaman 8

Sabtu, 08 November 2014

Grand Serpong Hotel, Tangerang

The Best Choice for Business and Leisure
KOTA dan Kabu paten Tangerang, serta Tangerang Selatan, Banten, terus menggeliat. Aktivitas ekonominya mendorong meningkatnya bisnis perhotelan di wilayah ini.

Tangerang yang mandiri dan tumbuh pesat membuat bisnis hiburan dan perhotelan juga semakin meningkat guna menjawab setiap kebutuhan pengunjung ke daerah ini. Untuk memenuhi akomodasi dengan berbagai keinginan itulah, Grand Serpong Hotel, salah satu hotel bintang empat yang berstandar internasional, dibangun dan dioperasikan.

Hotel ini memilih lokasi tepat di jantung Kota Tangerang. Posisinya sangat mudah diakses dari berbagai penjuru, berdekatan dengan gedung-gedung perkantoran dan area bisnis. Kemudahan lainnya ialah aksesnya yang lancar menuju Bandara Soekarno-Hatta.Itu semakin memudahkan para tamu untuk tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari mereka, baik untuk kepentingan bisnis maupun berlibur.

Dengan mengangkat konsep apartemen yang modern dan elegan, bangunan megah dan kukuh Grand Serpong Hotel dihiasi dengan penggunaan inte rior yang didominasi warna-warna hangat. Warga cokelat, misalnya, semakin menambah kesan nyaman selayaknya sedang berada di rumah. Hotel ini memiliki 194 unit kamar, yang terbagi dalam 111 kamar superior, 21 kamar deluxe, 49 family room, dan 13 family suite.

Keseluruhan kamarnya masih menggunakan konsep yang sama yaitu modern elegan. Fasilitas yang disediakan juga merupakan fasilitas terbaik, modern, dan lengkap, seperti balkon pribadi, LED TV, coffee and tea maker, dan pengering rambut.

Sebagai hotel bintang empat, Grand Serpong Hotel akan menyediakan aneka fasilitas yang terbaik untuk para tamu. Fasilitas hotel yang tersedia antara lain akses wi-fi yang dapat dinikmati di setiap sudut hotel, area pusat bisnis, pusat kebugaran, dan kolam renang.

Untuk pelengkap lainnya, pihak hotel juga menyediakan shuttle yang siap mengantar Anda menuju ke Bandara.
Untuk memenuhi kebutuhan tamu pebisnis, manajemen hotel juga memberikan berbagai fasilitas pendukung, seperti ruang meeting dan ballroom untuk menampung 1.000 orang.(*/N-3) Media Indonesia, 7/11/2014, halaman 12

Rabu, 29 Oktober 2014

Bantuan Dana DKI Untuk Membuka Jalur Busway

Seperti yang diberitakan vivanewsco.id, Rabu, 29 Oktober 2014 pukul 11:10 WIB. Pemerintah Kota Tangerang yang merupakan delapan mitra target dari program pemberian dana bantuan pembangunan bagi kota-kota mitra di sekitar wilayah DKI Jakarta. Seperti yang dikatakan Bapak Basuki : “Pemerintah Kota Tangerang ingin membuat jalur busway layang hingga ke Ciledug. Dan dana anggaran yang diajukan mereka bisa mencapai 1,5 triliun, di Balai Kota DKI Jakarta Selasa 29 Oktober 2014.

Bantuan pendanaan ini akan diberikan pada periode tahun anggaran 2015. Dan ke delapan daerah mita yang menjadi target sudah mulai mengajukan proposal-proposal usulan pemberian dana. Seperti contoh Pemerintah Kota Tangerang berencana menggunakan dana bantuan tersebut untuk memperpanjang jalur busway ke wilayah DKI Jakarta.

Setiap proposal permohonan bantuan dana yang diajukan masing-masing dari delapan daerah mitra tersebut tidak dipermasalahkan. Namun tentunya akan dibahas terlebih dahulu bersama SKPD, dan nantinya akan diajukan ke komisi (DPRD). Yang penting bermanfaat bagi DKI Jakarta.

Sebelumnya pertemuan antara Plt. Gubernur DKI Jakarta Bapak Basuki dengan Kepala Daerah delapan mitra sudah diadakan pada tanggal 17 September 2014 di Wisma Nusantara, Jakarta Pusat. Rencananya ke delapan daerah mitra tersebut adalah Kota Bogor, Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Tangeran, Kabupaten Bekasi, Kota Tangerang Selatan dan Kota Tangerang.

Tentunya program bantuan dana untuk pembangunan ini sangatlah bermanfaat untuk kepentingan masyarakat di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Apalagi pembangunan jalur busway tentunya akan memperlancar sarana dan prasarana transportasi untuk mengatasi kemacetan di jalan raya.

Hal ini juga memberikan kemudahan bagi pelaku usaha rental mobil di Tangerang, karena kelancaran transportasi tentu memberikan dampak yang sangat baik untuk bisnis mereka. Hal ini patut diberikan acungan jempol kepada Kepala Daerah yang meluncurkan program yang hebat ini. Mari kita sama-sama memberikan motivasi dan dukungan kepada masing-masing pemerintah di setiap daerah agar terus membangun infrastruktur demi kepentingan masyarakat Indonesia. Amin.